Ceritakan tentang diri Anda secara singkat.
Nama saya Ghazy Fadhil Haq. Saya adalah lulusan D4 Teknik Mesin dari Politeknik Negeri Samarinda (IPK 3.65). Saat ini saya memiliki pengalaman lebih dari 4 tahun yang mencakup Manajemen Konstruksi (bersertifikasi BNSP) dan pengawasan operasional logistik bahan bakar (Fuel Operations) di area pertambangan. Selain rekam jejak keteknikan yang solid, saya juga mendirikan dan mengelola dua inisiatif teknologi (Tech Ventures) yang berfokus pada otomasi dan efisiensi sistem digital.
Apa yang menjadi kelebihan (strengths) utama Anda?
Kelebihan utama saya adalah kombinasi antara technical hard-skills lapangan dan digital problem-solving. Saya tidak hanya mampu mengawasi K3LH atau melakukan data inspeksi BBM secara presisi di remote area, tetapi saya juga memiliki kapasitas full-stack development untuk membangun sistem pelaporan atau otomasi internal yang membuat alur kerja tim menjadi jauh lebih efisien dan akuntabel berbasis data (data-driven).
Apa rencana karier Anda untuk 5 tahun ke depan?
Dalam 5 tahun ke depan, saya melihat diri saya memegang peran manajerial strategis, seperti Operations Manager atau Lead Project Controller. Saya ingin dikenal sebagai profesional yang tidak hanya piawai memastikan operasional lapangan berjalan dengan Zero Accident dan mencapai target KPI perusahaan, tetapi juga sebagai inovator internal yang berhasil memodernisasi proses-proses konvensional menjadi terdigitalisasi secara sistematis.
Bagaimana Anda menangani tekanan (pressure) atau situasi stres tinggi dalam pekerjaan?
Saya menangani tekanan dengan cara "mengubah kepanikan menjadi prosedur". Ketika situasi di lapangan memanas atau tenggat waktu semakin sempit, emosi tidak akan menyelesaikan masalah. Saya langsung fokus pada pembuatan prioritas (triage) berdasarkan urgensi operasional, mendelegasikan tugas sesuai kapasitas tim, dan memonitor progres secara real-time. Pengalaman saya di lingkungan proyek konstruksi dan logistik tambang telah melatih mental saya untuk tetap bersikap analitis dan dingin (cool-headed) meskipun berada di bawah tekanan ekstrem.
Lingkungan kerja seperti apa yang Anda harapkan?
Saya berkembang pesat di lingkungan kerja yang sangat menghargai akuntabilitas data dan komunikasi transparan. Saya menyukai tim yang tidak takut untuk berdebat secara profesional mengenai solusi teknis terbaik, namun pada akhirnya bersatu saat eksekusi. Lingkungan yang ideal bagi saya adalah yang memberikan ruang untuk inisiatif digitalisasi dan perbaikan proses secara terus-menerus (continuous improvement), di mana ide-ide berbasis efisiensi dari lapangan selalu didengar dan ditindaklanjuti.
Apakah Anda bersedia ditempatkan di lokasi proyek atau remote area?
Sangat bersedia. Sebagian besar pengalaman profesional saya yang paling berdampak justru terbentuk di remote area (seperti pengawasan project di Batu Engau). Saya sudah terbiasa dengan ritme kerja lapangan yang menuntut fisik, rotasi roster kerja, serta protokol K3LH yang ketat di area terisolasi. Bagi saya, remote area bukan sekadar tempat kerja, melainkan episentrum di mana efisiensi operasional paling diuji dan paling membutuhkan perbaikan sistem.
Bagaimana Anda membagi waktu antara pekerjaan utama perusahaan dan inisiatif Tech Ventures Anda?
Pekerjaan utama atau profesional (day job) selalu menjadi prioritas mutlak yang mengikat saya secara kontrak dan etika. Tech Ventures yang saya bangun berfungsi sebagai wadah eksplorasi dan R&D di luar jam kerja untuk mengasah kemampuan pemrograman dan problem-solving saya. Justru, ilmu dan inovasi efisiensi yang saya temukan dari membangun Tech Ventures tersebut selalu saya bawa dan aplikasikan untuk menyelesaikan masalah-masalah di pekerjaan utama saya, sehingga memberikan value ganda bagi perusahaan tempat saya bekerja.
Berapa ekspektasi gaji Anda?
Fokus utama saya saat ini adalah menemukan posisi di mana perpaduan antara keahlian manajemen lapangan dan kemampuan digitalisasi saya dapat memberikan dampak penghematan operasional paling besar bagi perusahaan. Saya sangat terbuka untuk berdiskusi mengenai kompensasi, dan saya yakin perusahaan Anda memiliki struktur remunerasi yang kompetitif dan adil berdasarkan beban tanggung jawab, kompleksitas area kerja (jika remote), serta nilai tambah unik yang saya bawa ke dalam peran tersebut.
Apa kelemahan terbesar Anda dan bagaimana Anda mengatasinya?
Sebagai seorang profesional dan pria, prinsip saya adalah tidak meratapi atau mengekspos kelemahan, melainkan secara konsisten melakukan introspeksi diri secara objektif. Setiap kali menemukan celah atau kekurangan dalam eksekusi teknis maupun kepemimpinan, fokus saya bukan pada alibi, melainkan langsung mengevaluasi akar masalah, mengoreksi strategi, dan mengambil langkah disiplin untuk mengonversinya menjadi kekuatan operasional yang lebih solid.
Mengapa Anda memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan Anda sebelumnya?
Perusahaan sebelumnya memberikan pengalaman yang sangat berharga dalam membentuk fondasi saya di pengawasan lapangan, logistik, dan K3.
Namun, saat ini kontinuitas proyek di perusahaan tersebut sedang mengalami penyusutan yang signifikan. Sebagai profesional, saya butuh lingkungan kerja yang aktif dan produktif agar dapat terus berkarya, menjaga keberlanjutan karir, serta menyalurkan keahlian saya dalam integrasi teknologi operasional untuk memberikan dampak efisiensi di perusahaan baru.
Bagaimana Anda mengatur prioritas ketika dihadapkan pada beberapa tenggat waktu yang bersamaan?
Saya menggunakan Eisenhower Matrix yang disesuaikan dengan konteks operasional lapangan. Pertama, saya memisahkan tugas antara "Penting & Mendesak" (misal: isu K3 atau suplai bahan bakar yang menipis) dengan "Penting tapi Tidak Mendesak" (misal: penyusunan laporan audit bulanan). Ketika semua terasa mendesak, saya menilai berdasarkan dampak operasional berantai (bottleneck impact). Tugas yang jika ditunda akan menghentikan produktivitas divisi lain akan selalu saya selesaikan terlebih dahulu, sementara tugas administratif bisa saya delegasikan atau kerjakan setelah jam sibuk lapangan selesai.
Apakah Anda memiliki masalah jika harus melakukan perjalanan dinas atau rotasi lokasi secara intensif?
Sama sekali tidak. Sepanjang karier saya di bidang manajemen konstruksi dan logistik tambang, mobilitas tinggi sudah menjadi bagian dari DNA kerja saya. Saya terbiasa berpindah antar-site untuk melakukan audit, memastikan kelancaran rantai pasok, atau menyelesaikan krisis lapangan secara langsung. Saya menganggap perjalanan dinas bukan sebagai beban, melainkan kesempatan untuk memantau operasional riil di lapangan secara hands-on dan memastikan implementasi standar perusahaan berjalan konsisten di semua area.
Apa hobi atau kegiatan Anda di luar jam kerja profesional?
Selain mendedikasikan waktu luang untuk meriset teknologi efisiensi operasional melalui inisiatif Tech Ventures saya, saya menikmati literatur terkait ekonomi makro dan perkembangan industri. Saya juga menjaga rutinitas berolahraga secara konsisten untuk menjaga stamina fisik, yang menurut saya sangat esensial untuk menunjang performa di lapangan dengan mobilitas dan intensitas stres yang tinggi.
Bagaimana Anda menyikapi kritik atau masukan negatif dari atasan atau rekan kerja?
Di dunia konstruksi dan pertambangan, ego adalah musuh utama dari keselamatan dan efisiensi. Saya memperlakukan negative feedback sebagai titik data operasional yang sangat berharga. Jika kritik tersebut valid secara objektif, saya akan segera menyesuaikan parameter kerja atau perilaku manajerial saya tanpa bersikap defensif. Jika saya merasa kritik tersebut kurang akurat secara konteks, saya tidak akan berdebat secara emosional, melainkan mengajak diskusi santai berbasis data historis lapangan untuk menyamakan persepsi.
Apa situasi atau kondisi yang paling membuat Anda merasa frustrasi di tempat kerja?
Saya merasa paling frustrasi ketika sebuah organisasi menolak untuk mengadopsi cara kerja yang jauh lebih aman dan efisien hanya karena alasan sentimen "kita sudah terbiasa dengan cara lama". Bagi saya, inefisiensi yang dibiarkan secara sadar adalah bentuk pengabaian tanggung jawab manajerial. Namun, daripada hanya mengeluh, saya menyalurkan frustrasi tersebut dengan membangun prototype atau simulasi kecil yang membuktikan secara empiris (angka) bahwa cara baru melalui otomasi memang jauh lebih menguntungkan.
Mengapa Anda beralih atau menggabungkan bidang Teknik Mesin, Manajemen Konstruksi, dan IT/Software Development?
Saya tidak sepenuhnya beralih, melainkan mengintegrasikan ketiganya. Latar belakang Teknik Mesin dan Sertifikasi Manajemen Konstruksi memberi saya pemahaman kuat tentang proses industri dan efisiensi operasional. Sementara itu, keahlian di bidang IT/Software Development memungkinkan saya menciptakan solusi digital yang mempercepat alur kerja, mendigitalisasi logistik pertambangan, dan melakukan audit proyek secara lebih presisi. Kombinasi ini membuat saya mampu menjadi jembatan antara operasional lapangan dan inovasi teknologi.
Apa pencapaian terbesar Anda sejauh ini yang relevan dengan posisi Fuel Operations atau Construction Management?
Pencapaian terbesar saya adalah mampu mengoptimalkan akurasi data pengawasan logistik bahan bakar dan meminimalisir deviasi (loss) pada operasional harian. Selain itu, dengan 3 Sertifikasi BNSP di bidang konstruksi, saya berhasil memastikan proyek berjalan sesuai standar mutu dan K3 yang ketat, serta merancang digitalisasi sistem pelaporan yang mempercepat pengambilan keputusan manajemen.
Bagaimana Anda merespons kritik tajam dari atasan, terutama ketika Anda merasa sudah memberikan 100% effort?
Saya selalu memisahkan antara "ego personal" dan "kualitas pekerjaan". Jika atasan memberikan kritik tajam, saya tidak melihatnya sebagai serangan pribadi, melainkan sebagai data objektif bahwa ekspektasi mereka (atau standar perusahaan) belum sepenuhnya terpenuhi—terlepas dari seberapa keras keringat saya. Saya akan mendengarkan tanpa interupsi, meminta contoh atau feedback spesifik di mana letak deviasinya, lalu segera menyelaraskan ulang (re-align) metode kerja saya. Di industri yang menuntut presisi mutlak (seperti konstruksi, K3, atau manajemen BBM), kritik keras adalah "jaring pengaman" paling berharga agar kita tidak membuat kesalahan operasional fatal di kemudian hari.
Mengapa kami harus merekrut Anda dibanding kandidat lain?
Anda mungkin menemukan kandidat yang pandai mengatur logistik bahan bakar, dan Anda juga mungkin menemukan engineer yang pandai membaca blueprint mekanikal. Namun, Anda akan sangat sulit menemukan kandidat yang bisa melakukan keduanya secara disiplin di lapangan, dan sekaligus mampu membangun sendiri infrastruktur digital (Full-Stack) untuk mengotomatisasi pengawasan tersebut. Saya tidak hanya membawa tenaga dan kemampuan *problem solving* lapangan, saya membawa percepatan transformasi digital yang akan menghemat ribuan jam man-power perusahaan Anda.
Jika Anda dihadapkan pada dua proyek kritis dengan tenggat waktu (deadline) yang bersamaan namun sumber daya terbatas, apa yang akan Anda lakukan?
Langkah pertama saya adalah mematikan asumsi dan melihat data. Saya akan memetakan matriks Impact vs Urgency untuk kedua proyek tersebut terhadap KPI makro perusahaan. Selanjutnya, saya akan mengidentifikasi Critical Path dari masing-masing proyek. Tugas-tugas yang bisa berjalan paralel akan didelegasikan, sementara proses bottleneck akan mendapatkan fokus ekstra. Jika sumber daya benar-benar tidak mencukupi secara matematis, saya akan segera berkoordinasi secara transparan dengan *stakeholder* level atas, menyajikan data dan tiga opsi skenario penyelesaian, lalu merekomendasikan kompromi terbaik (seperti penyesuaian scope atau lembur terkalkulasi).